Senin, 11 Juli 2016

HIPERTENSI

HIPERTENSI
PENGERTIAN HIPERTENSI
Hipertensi atau tekanan darah tinggi adalah kondisi kronis di mana tekanan darah pada dinding arteri (pembuluh darah bersih) meningkat. Kondisi ini dikenal sebagai “pembunuh diam-diam” karena jarang memiliki gejala yang jelas. Satu-satunya cara mengetahui apakah Anda memiliki hipertensi adalah dengan mengukur tekanan darah.

Risiko Mengidap Hipertensi

Berikut ini adalah faktor-faktor pemicu yang diduga dapat memengaruhi peningkatan risiko hipertensi.
  • Kurang makan buah dan sayuran.
  • Minum terlalu banyak kopi (atau minuman lain yang mengandung kafein).
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras.
  • Usia diatas 65 tahun. Risiko hipertensi meningkat seiring bertambahnya usia.
  • Faktor keturunan. Orang dengan anggota keluarga yang mengidap hipertensi memiliki risiko tinggi untuk mengalami kondisi yang sama.
  • Merokok. Rokok dapat meningkatkan tekanan darah sekaligus menyempitkan dinding arteri.
  • Kelebihan berat badan atau obesitas. Kadar oksigen dan nutrisi yang dialirkan darah akan diukur oleh tubuh sesuai dengan berat badan. Berat badan yang berlebihan akan membutuhkan oksigen dan nutrisi yang lebih banyak, sehingga volume darah dibutuhkan lebih banyak. Volume darah yang meningkat akan meningkatkan tekanan darah.
  • Kurang olahraga. Orang yang jarang berolahraga cenderung memiliki detak jantung yang lebih cepat, sehingga jantung akan bekerja lebih keras. Kerja jantung lebih keras akan meningkatkan tekanan darah.
  • Kadar garam yang tinggi dalam makanan. Kadar garam yang tinggi bisa menyebabkan penumpukan cairan dalam tubuh, yang kemudian akan meningkatkan tekanan darah.
  • Terlalu banyak mengonsumsi minuman keras. Kandungan alkohol dalam minuman keras dapat memicu kerusakan pada organ jantung.
  • Stres. Tingkat stres yang tinggi berpotensi memicu peningkatan tekanan darah
Risiko mengidap hipertensi dapat dikurangi dengan mengubah hal-hal di atas dan menerapkan gaya hidup yang lebih sehat. Pemeriksaan tekanan darah secara rutin juga bisa membantu diagnosis pada tahap awal. Diagnosia hipertens sedini mungkin akan meningkatkan kemungkinan untuk menurunkan tekanan darah ke taraf normal. Hal ini bisa dilakukan dengan mengubah gaya hidup menjadi lebih sehat tanpa perlu mengonsumsi obat.

Mengukur Tekanan Darah

Kekuatan darah dalam menekan dinding arteri ketika dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh menentukan ukuran tekanan darah. Tekanan yang terlalu tinggi akan membebani arteri dan jantung Anda, sehingga pengidap hipertensi berpotensi mengalami serangan jantung, stroke, atau penyakit ginjal.
Pengukuran tekanan darah dalam takaran merkuri per milimeter (mmHG) dan dicatat dalam dua bilangan, yaitu tekanan sistolik dan diastolik. Tekanan sistolik adalah tekanan darah saat jantung berdetak memompa darah keluar. Sedangkan tekanan diastolik merupakan tekanan darah saat jantung tidak berkontraksi (fase relaksasi) . Saat ini darah yang baru saja dipompa keluar jantung (tekanan sistolik), berada di pembuluh arteri dan tekanan diastolik juga menunjukkan kekuatan dinding arteri menahan laju aliran darah.
Tekanan darah Anda 130/90mmHg . Angka normal tekanan darah adalah yang berada di bawah 120/80 mmHG.
Anda akan dianggap mengidap hipertensi atau tekanan darah tinggi jika hasil dari beberapa kali pemeriksaan, tekanan darah Anda tetap mencapai 140/90 mmHg atau lebih tinggi.
GEJALA HIPERTENSI
seseorang dengan tekanan darah yang tinggi mengalami gejala seperti sesak napas, sakit kepala berkepanjangan, mimisan, dan pandangan kabur atau penglihatan ganda.
Hipertensi yang tidak segera diatasi bisa mengarah kepada penyakit serius, seperti stroke dan penyakit jantung.

Hipertensi dan Kehamilan

Ibu yang sedang hamil sangat dianjurkan untuk mengukur tekanan darahnya secara teratur, meski hasilnya tidak pernah tinggi. Dengan pemeriksaan dan pemantauan yang rutin, sang ibu dapat menurunkan risiko hipertensi yang mungkin terjadi selama kehamilan.
Jika tidak diperiksakan, ibu hamil berpotensi mengalami kondisi serius yang dikenal sebagai preeklamsia. Preeklamsia akan menyebabkan gangguan pada plasenta (organ yang menghubungkan peredaran darah bayi pada sang ibu atau ari-ari).
PENYEBAB HIPERTENSI
Beberapa penyebab di balik kondisi ini umumnya meliputi:
  • Diabetes.
  • Penyakit ginjal.
  • Kondisi yang memengaruhi jaringan tubuh, misalnya lupus.
  • Obat-obatan tertentu, misalnya pil kontrasepsi, analgesik atau obat pereda sakit, obat pilek, serta dekongestan.
  • Penyempitan pembuluh darah (arteri) yang mengalirkan darah ke ginjal.
  • Gangguan hormon, khususnya tiroid.
DIAGNOSIS HIPERTENSI
Angka tekanan darah yang ideal adalah di bawah 120/80 mmHg. Namun, hasil pengukuran di bawah 130/90 mmHg masih termasuk dalam batas normal. Tekanan darah bisa berubah-ubah. Hasil pengukuran yang tinggi dalam sekali pemeriksaan tidak berarti Anda otomatis mengidap hipertensi.
Tes darah dan urine mungkin akan dianjurkan untuk memeriksa apakah ada kondisi atau penyakit tertentu yang menjadi pemicu di balik peningkatan tekanan darah.
Perubahan pada gaya hidup dan konsumsi obat anti-hipertensi bisa menjadi langkah yang efektif untuk menurunkan hipertensi. Tingginya tekanan darah dan risiko pasien untuk mengalami penyakit kardiovaskular (seperti serangan jantung dan stroke) akan menentukan jenis pengobatan yang akan dijalani. Contoh kondisi yang mungkin menjadi pertimbangan dalam pengobatan meliputi:
  • Jika tekanan darah Anda sangat tinggi (160/100 mmHg atau lebih), harus dilakukan perawatan secepatnya.
  • Jika tekanan darah Anda mencapai 140/90 mmHg atau lebih dan Anda dinilai memiliki risiko penyakit kardiovaskular pada jangka waktu 10 tahun, Anda perlu mengonsumi obat-obatan serta mengubah gaya hidup agar lebih sehat.
  • Jika tekanan darah Anda sedikit lebih tinggi dari 130/80 mmHg dan memiliki risiko penyakit kardiovaskular yang rendah, Anda bisa menurunkan tekanan darah cukup dengan mengubah gaya hidup Anda.
PENGOBATAN HIPERTENSI
Perubahan gaya hidup untuk menurunkan tekanan darah bisa terlihat dampaknya dalam beberapa minggu. Langkah ini dapat dilakukan dengan cara-cara sederhana seperti:
  • Mengonsumsi makanan sehat, rendah lemak, dan seimbang. Misalnya, nasi merah, buah, serta sayur.
  • Mengurangi konsumsi garam hingga kurang dari satu sendok teh per hari.
  • Aktif berolahraga. Aktif secara fisik adalah hal paling penting yang bisa Anda lakukan untuk mencegah atau mengendalikan hipertensi.
  • Menurunkan berat badan.
  • Berhenti merokok. Merokok akan meningkatkan peluang Anda menderitapenyakit jantung dan paru-paru secara drastis.
  • Menghindari atau mengurangi konsumsi minuman keras.
  • Mengurangi konsumsi minuman kaya kafein, seperti kopi, teh, atau cola.
  • Melakukan terapi relaksasi, misalnya yoga atau meditasi untuk mengendalikan stres.
KOMPLIKASI HIPERTENSI
Hipertensi akan lebih membebani jantung dan pembuluh darah Anda jika tidak ditangani dengan seksama. Jenis-jenis komplikasi yang berpotensi terjadi meliputi:
  • Serangan jantung atau stroke. Hipertensi berpotensi menyebabkan penebalan dan pengerasan dinding arteri sehingga dapat memicu serangan jantung serta stroke.
  • Aneurisme atau pelebaran abnormal pada arteri. Peningkatan tekanan darah dapat memicu pelebaran dinding pembuluh darah (seperti menggembung). Dinding yang menggelembung akan menjadi lemah saat menahan tekanan aliran darah. Komplikasi ini berpotensi mengancam jiwa, terutama jika pembuluh darah pecah.
  • Pembuluh darah kecil pada ginjal yangrusak akibat hipertensi. Kondisi ini bisa menghalangi ginjal untuk berfungsi dengan baik. Beberapa gejalanya adalah pembengkakan kedua tungkai bawah, keinginan untuk buang air kecil di malam hari meningkat tapi volume urine sedikit, dan hipertensi yang semakin parah.
  • Sindrom metabolik, yaitu munculnya sejumlah masalah kesehatan yang dialami secara bersamaan. Lingkar pinggang meningkat, tingginya kadar trigliserida, rendahnya kadar kolesterol baik (HDL), kadar gula darah puasa yang tinggi, disertai hipertensi akan meningkatkan risiko terjadinya sindrom metabolik. Sindrom ini juga dikenal sindom resistensi insulin, dimana tubuh gagal menggunakan insulin dalam darah dengan efektif. Pada akhirnya, risiko terjadinya penyakit kardiovaskular dan diabtes juga akan meningkat.
PENCEGAHAN HIPERTENSI
Penerapan pola hidup sehat seperti konsumsi makanan bernutrisi, olahraga teratur, tidak merokok, dan menghindari minuman keras bisa mencegah hipertensi. Beberapa contoh penerapan yang bisa dilakukan meliputi:
  • Makanan. Konsumsilah makanan yang rendah lemak dan kaya serat, seperti roti dari biji-bijian utuh, beras merah, serta buah dan sayuran. Kurangi konsumsi garam dalam makanan Anda, setidaknya tidak lebih dari 6 gram garam per hari (sekitar satu sendok teh).
  • Berat Badan. Meski hanya beberapa kilo, menurunkan berat badan akan membuat perbedaan besar pada tekanan darah dan kesehatan secara keseluruhan.
  • Olahraga. Untuk menurunkan tekanan darah dan menjaga jantung serta pembuluh darah dalam kondisi baik, olahraga dan rutin beraktivitas perlu dilakukan. Bagi orang dewasa, beraktivitas dengan intensitas menengah ( bersepeda atau jalan cepat) setidaknya harus dilakukan selama 2 hingga 3 jam setiap minggu.
  • Terapi relaksasi, seperti yoga atau meditasi. Terapi-terapi tersebut dapat membantu Anda untuk mengendalikan stres.
  • Minuman keras. Batas konsumsi minuman keras yang dianjurkan dalam sehari adalah 2 hingga 2,5 kaleng bir berkadar alkohol 4,7persen untuk pria. Dan maksimal 2 kaleng bir berkadar alkohol 4,7 persen untuk wanita. Risiko hipertensi akan meningkat jika Anda mengonsumsi minuman keras terlalu sering dan berlebihan.
  • Merokok. Rokok tidak menyebabkan hipertensi secara langsung, tapi akan mempertinggi risiko serangan jantungdan stroke karena dapat memicu penyempitan arteri. Kombinasi merokok dan hipertensi akan meningkatkan risikopenyakit jantung atau paru-paru secara drastis.
  • Kafein. Kurangi konsumsi minuman yang mengandung banyak kafein seperti kopi, teh, cola serta minuman berenergi. Meminum lebih dari empat cangkir kopi sehari bisa meningkatkan risiko hipertensi.

Minggu, 10 Juli 2016

TUBERKULOSIS (TB)

TUBERKULOSIS (TB)

PENGERTIAN
Tuberkulosis (TB) yang juga dikenal dengan singkatan TBC merupakan penyakit menular yang menyebabkan masalah kesehatan terbesar kedua di dunia setelah HIV. Indonesia sendiri termasuk lima besar negara dengan jumlah pengidap TB terbanyak di Asia Tenggara dengan jumlah pengidap yang mencapai 305.000 jiwa pada tahun 2012.

Gejala dan Jenis Tuberkulosis

Penyakit ini paling sering menyerang paru-paru dengan gejala utama berupa batuk berdahak yang berlangsung selama lebih dari 21 hari. Batuk juga terkadang dapat mengeluarkan darah. Selain batuk, pengidap TB biasanya juga akan kehilangan nafsu makan sehingga mengalami penurunan berat badan yang disertai demam dan kelelahan.
Ketika bakteri TB masuk ke dalam tubuh, bakteri tersebut bisa bersifat tidak aktif untuk beberapa waktu sebelum kemudian menyebabkan gejala-gejala TB. Pada kasus ini, kondisi tersebut dikenal sebagai tuberkulosis laten. Sedangkan TB yang langsung memicu gejala dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif.

Penyebab dan Faktor Risiko Tuberkulosis

Penyebab tuberkulosia adalah bakteri yang menyebar di udara melalui semburan air liur dari batuk atau bersin pengidap TB. Nama bakteri TB adalah mycobacterium tuberculosis.
Berikut ini adalah beberapa kelompok orang yang memiliki risiko lebih tinggi tertular TB:
  • Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, misalnya pengidap HIV/AIDS, diabetes atau orang yang sedang menjalani kemoterapi.
  • Orang yang mengalami malanutrisi atau kekurangan gizi.
  • Pecandu narkoba.
  • Para perokok.
  • Para petugas medis yang sering berhubungan dengan pengidap TB.

Diagnosis dan Pengobatan Tuberkulosis

Tuberkulosis termasuk penyakit yang sulit untuk dideteksi, terutama pada anak-anak. Dokter biasanya menggunakan beberapa cara untuk mendiagnosia penyakit ini, antara lain:
  • Rontgen dada.
  • Tes Mantoux.
  • Tes darah.
  • Tes dahak.
Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan jika diobati dengan benar.Langkah pengobatan yang dibutuhkan adalah dengan mengonsumsi beberapa jenis antibiotik yang harus diminum selama jangka waktu tertentu.
Langkah Pencegahan Tuberkulosis
Langkah utama dalam pencegahan TB adalah dengan menerima vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftar imunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia tiga bulan.
Vaksin BCG juga dianjurkan bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang belum pernah menerimanya pada waktu bayi. Tetapi harap diingat bahwa keefektifan vaksin ini akan berkurang pada orang dewasa.
Selain gejala utama berupa batuk berdahak yang berlangsung lebih dari 21 hari, tuberkulosis juga memiliki gejala-gejala lain. Di antaranya:
  • Batuk yang mengeluarkan darah.
  • Dada yang terasa sakit saat bernapas atau batuk.
  • Tidak nafsu makan.
  • Penurunan berat badan.
  • Demam dan menggigil.
  • Berkeringat secara berlebihan pada malam hari.
Tidak semua bakteri TB yang masuk ke dalam tubuh langsung menyebabkan infeksi aktif atau tuberkulosis aktif. Ada kasus yang mana bakteri TB bersembunyi tanpa menyebabkan gejala apa pun sampai suatu hari nanti menjadi aktif dan gejala pun muncul. Kondisi ini dikenal sebagai tuberkulosis laten. Selain tidak mengalami gejala, pengidap tuberkulosis laten juga tidak menular.
Sedangkan TB yang langsung memicu gejala karena bakteri penyebabnya tidak bisa dibunuh oleh sistem kekebalan tubuh dikenal dengan istilah tuberkulosis aktif. Sangat penting agar tuberkulosis aktif diobati karena jika dibiarkan, bakteri TB dapat menyebar dan menyerang organ tubuh lain seperti otak, ginjal dan hati.
Tuberkulosis disebabkan oleh bakteri bernama mycobacterium tuberculosis. Bakteri ini menyebar di udara melalui semburan air liur dari batuk atau bersin pengidap tuberkulosis aktif.
Penularan TB tidak terjadi semudah penularan flu. Penularan TB biasanya membutuhkan beberapa waktu. Makin lama seseorang terpajan atau berinteraksi dengan penderita TB, risikonya untuk tertular akan makin tinggi juga. Misalnya, anak yang tinggal serumah dengan pengidap TB akan memiliki risiko tinggi untuk tertular.
Risiko penularan TB juga dapat meningkat bagi kelompok-kelompok orang tertentu, antara lain:
  • Orang yang tinggal di pemukiman padat dan kumuh.
  • Para petugas medis yang sering berhubungan dengan pengidap.
  • Manula serta anak-anak.

  1. Orang dengan sistem kekebalan tubuh yang menurun, misalnya pengidap diabetes, kanker, HIV, pengidap penyakit ginjal stadium lanjut serta orang yang kekurangan gizi.

  • Para pengguna obat-obatan terlarang.
  • Orang yang kecanduan minuman keras.
Selain paru-paru, bakteri TB juga bisa menyerang tulang, otak, sistem pencernaan, kelenjar getah bening, sistem saluran kemih dan sistem saraf.
Pada tahap awal, dokter akan memeriksa kondisi fisik Anda untuk mendeteksi apakah ada pembengkakkan kelenjar getah beningserta menggunakan stetoskop untuk memeriksa paru-paru Anda.
Jika terdapat kemungkinan Anda mengidap TB, dokter akan melakukan beberapa pemeriksaan untuk memastikan diagnosis, antara lain:
X-ray Atau CT scan Dada
Jika Anda mengidap TB, foto hasil tes akan menunjukkan perubahan pada paru-paru. X-ray biasanya digunakan terlebih dahulu dan jika dibutuhkan pencitraan yang lebih mendetail, barulah digunakan CT scan
Tes Mantoux
Dalam tes ini, dokter akan menyuntikkan substansi tuberkulin PPD ke lapisan kulit lalu reaksi kulit akan dipantau dalam 2-3 hari berikutnya. Ukuran pembengkakan pada bagian yang disuntik akan mengindikasikan kemungkinan Anda menderita TB. Penderita TB laten akan mengalami pembengkakan. Jika seseorang mengalami infeksi TB yang aktif, reaksi kulit akan lebih signifikan. Berbeda dengan orang yang telah menerima vaksin TB, dia hanya akan mengalami reaksi kulit yang tergolong ringan.
Pemeriksaan Sampel Dahak
Selain untuk memeriksa keberadaan bakteri TB, tes ini juga bisa memberitahu jika bakteri TB yang menyerang itu bersifat resistan terhadap obat antibiotik.
Tes Darah
Tes ini digunakan untuk memeriksa keberadaan antibodi TB dalam tubuh dan dapat mendeteksi tuberkulosis aktif dan laten.
  1. Penyakit yang tergolong serius ini dapat disembuhkan dan jarang berakibat fatal jika diobati dengan benar. Langkah pengobatan yang digunakan adalah pemberian antibiotik yang harus dihabiskan oleh pengidap TB selama jangka waktu tertentu sesuai resep dokter.

Jenis-jenis antibiotik yang digunakan adalah isoniazid, rifampicin, pyrazinanide dan ethambutol. Sama seperti semua obat-obat lain, antibiotik untuk TB juga memiliki efek samping, terutama rifampicin danethambutol. Rifampicin dapat menurunkan keefektifan alat kontrasepsi yang mengandung hormon. Sedangkanethambutol dapat memengaruhi kondisi penglihatan pengidap.
Efek samping lainnya dari obat-obatan TB adalah mual dan muntah-muntah, penurunan nafsu makan, sakit kuning, urine yang berwarna gelap, demam, ruam, serta gatal-gatal pada kulit.
Masa penyembuhan TB berbeda-beda pada tiap pengidap dan tergantung pada kondisi kesehatan pengidap serta tingkat keparahan TB yang dialami. Kondisi pengidap umumnya akan mulai membaik dan berhenti menular setelah 2-3 minggu meminum obat. Tetapi untuk memastikan kesembuhan total, pengidap TB harus menggunakan antibiotik yang diberikan dokter selama 6-9 bulan.
Jika pengidap tidak meminum obat sesuai resep dokter atau berhenti meminumnya sebelum waktu yang dianjurkan dokter, maka bakteri TB bisa tidak hilang sepenuhnya dari tubuh meski pengidap merasa kondisinya sudah membaik. Infeksi TB yang diidap juga memiliki kemungkinan menjadi resistan terhadap antibiotik. Jika ini terjadi, TB akan lebih sulit diobati sehingga membutuhkan masa penyembuhan yang jauh lebih lama, yaitu sekitar 2-2.5 tahun.
Langkah utama dalam pencegahan TB adalah dengan menerima vaksin TB yaitu vaksin BCG (Bacillus Calmette-Guerin). Di Indonesia, vaksin ini termasuk dalam daftarimunisasi wajib dan diberikan sebelum bayi berusia tiga bulan. Vaksin BCG juga dianjurkan bagi anak-anak, remaja maupun orang dewasa yang belum pernah menerimanya pada waktu bayi. Tetapi harap diingat bahwa keefektifan vaksin ini akan berkurang pada orang dewasa.
Selain vaksinasi, Anda juga dapat mencegah TB dengan senantiasa mengenakan masker saat berada di tempat umum yang ramai, jika berinteraksi dengan pengidap TB, serta mencuci tangan secara teratur (khususnya pekerja medis).
Pengidap TB dapat menularkan penyakit ini jika belum menjalani pengobatan sepenuhnya. Jika Anda mengidap TB, langkah-langkah berikut akan sangat berguna untuk mencegah penyebarannya kepada keluarga.
  • Tutupi mulut Anda saat bersin, batuk, dan tertawa atau kenakanlah masker.
  • Pastikan rumah Anda memiliki sirkulasi udara yang baik, misalnya sering membuka pintu dan jendela agar udara segar dapat masuk.
  • Tetaplah di rumah dan jangan tidur sekamar dengan orang lain sampai setidaknya beberapa minggu setelah menjalani pengobatan.

HIDROSEFALUS

Hidrosefalus

Apa hidrosefalus
A. Pengertian
Orang tua yang memiliki bayi pada umumnya lebih memperhatikan pertumbuhan berat dan tinggi badan bayi mereka pada saat kontrol setiap bulan. Sementara ukuran lingkar kepala bayi. terkadang luput dari perhatian orang tua. Padahal ukuran lingkar kepala merupakan parameter pertumbuhan yang juga penting dan perlu dikontrol layaknya tinggi dan berat badan.
Ukuran lingkar kepala berkaitan dengan volume otak. Banyak orang yang mengkaitkan volume otak dengan kecerdasan. Namun, kontrol terhadap ukuran lingkar kepala bukan berarti ingin mengetahui sejauh mana kecerdasan seorang bayi, melainkan lebih kepada kontrol apakah perkembangannya normal atau tidak.
Lingkar kepala bayi akan bertambah sesuai dengan perkembangan usianya. Oleh karena itu, orang tua harus rutin memantau perkembangan ukuran lingkar kepala bayi dari bulan ke bulan, apakah berkembang normal atau tidak. Patokannya, orang tua dapat melihat grafik pertumbuhan anak yang biasanya ada di buku-buku kesehatan bayi, dan selanjutnya menyesuaikan ukuran lingkar kepala bayi dengan usianya.
Jika orang tua mendapati bahwa ukuran lingkar kepala bayi ternyata melewati batas normal di grafik lingkar kepala, jangan anggap sepele. Sebab bisa saja hal itu menandakan adanya kelainan pada pertumbuhan kepala bayi, seperti hidrosefalus. 
Hidrosefalus adalah istilah yang berasal dari bahasa Yunani: “hydro” yang berarti air dan “cephalus” yang berarti kepala.
Jika dilihat dari segi bahasan Hidrosefalus dapat diartikan dengan “cairan di otak”. Namun dalam pengertian medis, hidrosefalus adalah penumpukan cairan CSF (cerebrospinal fluid) di dalam rongga ventrikel otak. Cairan tersebut berfungsi sebagai bantalan otak, namun jika berlebihan (menumpuk) dapat menimbulkan tekanan pada otak yang menyebabkan timbulnya pembengkakan.
Akibat cairan yang mengumpul di otak tersebut membuat kepala bayi (anak) membesar. Semakin lama tekanan di dalam rongga kepala akan semakin meningkat yang selanjutnya dapat menimbulkan rasa sakit yang luar biasa di kepala.

Tentang Cairan CSF
Cairan CSF merupakan cairan bening yang berada di antara otak dan sumsum tulang belakang yang berfungsi untuk membantu melindungi otak. Cairan ini bergerak diantara otak dan sumsum tulang belakang dan meresap ke aliran darah. Akumulasi (penumpukan) cairan CSF dapat menimbulkan pelebaran ventrikel otak (ruang-ruang di otak), yang menciptakan tekanan pada otak dan berpotensi membahayakan jaringan otak.
Kadar cairan CSF dalam otak dapat meningkat akibat terhalangnya aliran CSF dan membuat cairan tidak bisa diserap dengan baik ke aliran darah, atau bisa juga karena otak terlalu banyak memproduksi cairan ini sehingga terjadi tekanan pada otak yang menimbulkan pembengkakan dan kerusakan jaringan otak.
Sistem ventrikel terdiri dari empat ventrikel yang dihubungkan oleh bagian-bagian yang sempit di otak. Biasanya, CSF mengalir melalui ventrikel, keluar ke ruang tertutup yang berfungsi sebagai reservoir di dasar otak, menggenangi permukaan otak dan sumsum tulang belakang, dan kemudian meresap ke aliran darah.
Keseimbangan antara produksi dan penyerapan CSF sangatlah penting. Karena CSF dibuat secara terus menerus, maka kondisi medis yang menghambat aliran normalnya atau penyerapannya akan menghasilkan akumulasi berlebihan dari CSF. Akumulasi berlebihan tersebut dapat menimbulakn tekanan pada jaringan otak yang menyebabkan hidrosefalus.
Fungsi utama cairan CSF adalah:
1. Berfungsi sebagai bantalan otak untuk melindungi otak dari cedera
2. Membuang produk sisa metabolisme otak
3. Membuat otak tetap terapung dalam tengkorak kepala
4. Mengkompensasi perubahan tekanan darah di otak

Tipe Hidrosefalus
Hidrosefalus terbagi dua, yaitu:
  1. Hidrosefalus non-komunikans (tersumbat), terjadi karena adanya penyumbatan di tempat tertentu dalam otak, di jalan sempit yang dilalui cairan otak sewaktu mengalir keluar dari rongga ventrikel otak. Ini biasanya karena kelainan bawaan, tumor, dan infeksi.
  2. Hidrosefalus komunikans disebabkan karena penyerapan cairan otak yang tak memadai di tempat penyerapannya (rongga subarahnoid). Penyebabnya bisa karena kelainan bawaan atau muncul setelah sakit radang selaput otak (meningitis) atau perdarahan di bawah selaput otak.
Hidrosefalus dapat juga terjadi karena bawaan (kongenital) atau karena didapat. Hidrosefalus kongenital muncul pada saat kelahiran dan mungkin disebabkan oleh salah satu hal (infeksi) yang terjadi pada perkembangan janin selama dalam rahim, atau bisa juga karena adanya kelainan genetik.
Selama ini hidrosefalus dikenal banyak terjadi pada bayi atau anak-anak dengan ukuran kepala yang lebih besar dari ukuran normal. Padahal penyakit ini dapat pula menyerang orang dewasa dan orang tua. Meskipun Hidrosefalus mungkin saja terjadi pada orang dewasa, namun yang paling sering mengalaminya adalah bayi (anak-anak) dan orang tua.
Hidrosefalus yang didapat mulai berkembang pada usia berapapun dan dapat disebabkan karena cedera kepala, stroke, infeksi, tumor, perdarahan di kepala. Tanda-tanda hidrosefalus yang didapat (diperoleh) adalah sakit kepala, mual muntah, pandangan kabur, gangguan keseimbangan tubuh dan gangguan proses berpikir dan daya ingat. Jika tidak dilakukan penanganan yang cepat dan tepat maka dapat mengakibatkan kerusakan otak, gangguan fisik, mental bahkan kematian.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN NASOGASTRIC TUBE (NGT)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PEMASANGAN NASOGASTRIC TUBE (NGT)


A. Pengertian

NGT  adalah singkatan dari nasogastric tube atau sering juga disebut nasogastrik, merupakan istilah yang merujuk pada pemasangan suatu selang yang dimasukkan melalui hidung  sampai ke lambung. Ini sering digunakan untuk memberikan nutrisi dan obat-obatan kepada pasien yang tidak mampu untuk mengkonsumsi makanan, cairan dan obat-obatan dengan cara biasa atau secara oral. NGT juga digunakan untuk mengeluarkan isi lambung.
Pemasangan NGT adalah melakukan pemasangan selang (tube) dari rongga hidung kedalam lambung/gaster.

B. Indikasi Pemasangan NGT

Indikasi pasien yang di pasang NGT adalah diantaranya sebagai berikut:
  1. Pasien tidak sadar.
  2. Pasien kesulitan menelan.
  3. Pasien yang keracunan.
  4. Pasien yang muntah darah.
  5. Pasien Pra atau Post operasi esophagus atau mulut.

C. Pemasangan NGT
Adapun tujuan dari pemasangan NGT adalah sebagai berikut:
  1. Memasukkan makanan cair/obat-obatan cair.
  2. Mengeluarkan cairan/isi lambung & gas yang terdapat didalam lambung, misalnya mengeluarkan darah pada pasien yang mengalami muntah darah atau pendarahan pada lambung.
  3. Mengirigasi karena pendarahan/keracunan.
  4. Mencegah/mengurangi Nausea Vomitus.
  5. Mengambil spesimen pada lambung.

D. Pasien yang memerlukan pemasangan NGT

  1. Pasien tidak sadar (koma)
  2. Bayi prematur
  3. Gangguan pencernaan bagian atas
  4. pasien yang tidak bisa makan sendiri

E. Peralatan

  1. Selang pemasangan NG sesuai usia klien
  2. Jelly yang larut dalam air
  3. Kapas alkohol
  4. Pinset anatomis
  5. Bengkok
  6. Plester
  7. Gunting
  8. Klem
  9. Kassa steril
  10. Tissue
  11. Spuit 10 cc, sesuai kebutuhan
  12. Sarung tangan
  13. Stetoskop
  14. Spatel lidah
  15. Senter
  16. Handuk
  17. Segelas air putih
  18. Strip indikator PH
  19. Air dalam kom kecil
  20. Makanan dalam bentuk cair dan obat
F. Prosedur Kerja
Adapun langkah-lagkah pada prosedur pemasangan NGT yang benar adalah sebagai berikut :

Tahap Prainteraksi

  1. Cek catatan medis dan perawatan.
  2. Cuci tangan.
  3. Menyiapkan alat dan bahan serta obat-obatan yang akan digunakan.

Tahap Orientasi dan Pemasangan

  1. Memberi salam dan menyapa pasien.
  2. Panggil pasien dengan namanya serta memperkenalkan diri.
  3. Menerangkan prosedur tentang tindakan yang akan dilakukan dan tujuan tindakan pemasangan NGT.
  4. Atur posisi pasien (tidur telentang dengan kepala ditinggikan pakai 1-2 bantal) sehingga mempermudah pada saat pemasangan NGT dilakukan.
  5. Petugas menggunakan sarung tangan.
  6. Ukur panjang tube/selang yang akan digunakan dengan menggunakan metode :
    • Metode tradisional; Ukur jarak dari puncak lubang hidung kedaun telinga dan keprosesus xipoideus di strenum.
    • Metode Hanson; Mula-mula ditandai 50 cm pada tube / selang lalu lakukan pengukuran dengan metode tradisional. Selang yang akan dimasukkan pertengahan antara 50 cm dengan tanda tradisional.
  7. Beri tanda pada panjang selang yang sudah diukur dengan plester.
  8. Oleskan jelly pada selang NGT sepanjang 10-20 cm.
  9. Informasikan kepada pelanggan bahwa selang akan dimasukkan melalui hidung dan instruksikan kepada pasien agar menelan perlahan.
  10. Jika selang NGT sudah masuk periksa letak selang dengan cara :
    • Pasang spuit yang telah diisi udara kira-kira 10-20 ml lalu dorong sehingga udara masuk kedalam lambung kemudia dengarkan dengan menggunakan stetoskop di daerah lambung.
    • Masukkan ujung bagian luar selang NGT kedalam mangkok yang berisi air. Jika ada gelembung udara berarti masuk kedalam paru-paru, jika tidak ada gelembung udara berarti masuk kedalam lambung.
  11. Fiksasi selang NGT dengan plester dan hindari penekanan pada hidung.
  12. Tutup ujung luar NGT.
Makanan yang bisa di masukkan lewat NGT adalah makanan cair, caranya adalah sebagai berikut:
  1.  Siapakan spuit besar ukuran 50 cc.
  2. Siapakan makanan cair seperti susu, jus, dll.
  3. Pasang handuk di dada pasien dan siapkan bengkok.
  4. Masukkan ujung spuit pada selang NGT dan tetap jaga NGT supata tidak kemasukan udara dengan mengklem.
  5. Masukkan makanan cair pada spuit dan lepaskan klem, posisi spuit harus diatas supaya makanan cairnya bisa mengalir masuk ke lambung.
  6. Jangan mendorong makanan dengan spuit karena bisa menambah tekanan lambung, biarkan makanan mengalir secara alamai mengikuti gaya gravitasi.
  7. Makanan yang di masukkan maksimal 200 cc, jadi jika spuitnya 50 cc maka dapat dilakukan 4 kali.
  8. Apabila akan memasukkan makanan untuk yang kedua, jangan lupa mencuci dulu spuit. Jika sudah selesai aliri selang NGT dengan air supaya sisa-sisa makanan tidak mengendap di selang karena bisa mengundang bakteri.
  9. Setelah selesai rapikan peralatan.

Kontraindikasi Pemasangan NGT

  1. Pada pasien yang memliki tumor di rongga hidung atau esophagus.
  2. Pasien yang mengalami cidera serebrospinal.

DEMAM TIPOID (TIPUS)

DEMAM TIPOID (TIPUS)

A. Pengertian
Tifoid atau tipus adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri Salmonella thypi. Penyakit tifoid memang erat kaitannya dengan higienitas atau kebersihan. Bakteri penyebab tifoid senang hidup di makanan kotor ataupun tanah sehingga bila seseorang mengonsumsi makanan kotor dan saat daya tahan tubuhnya turun maka ia dapat terserang tifoid.
Demam tifoid (tyfhoid fiver) adalah jenis penyakit yang berkaitan dengan demam karena adanya infeksi bakteri yang menyebar keseluruh tubuh dan mempengaruhi banyak organ. Tanpa pengobatan yang tepat maka dapat menyebabkan komplikasi dan berakibat fatal. Tipes disebabkan oleh bakteri salmonella thypi, berhubungan dengan bakteri yang menyebabkan keracunan makanan salmonella.
Demam tifoid sangat menular. Orang yang terinfeksi dapat menularkan bakteri dari tubuh mereka misalnya melalui feses atau urin. 

B. Penyebab

Penyebab penyakit ini ialah infeksi bakteri Salmonella typhi. Bakteri menular melalui makanan yang terinfeksi atau mengandung kuman bakteri. Saat seseorang mengonsumsi makana tersebut dan daya tahan tubuhnya rendah, bakteri akan menyerang usus orang tersebut. Selanjutnya, bakteri masuk ke dalam peredaran darah dan terjadinya penyakit tifoid.

C. Gejala

Gejala tifoid tidak khas. Sering kali gejala awal tifoid tampak seperti gejala flu atau radang tenggorokan. Pada tahap lebih lanjut gejala tifoid juga sering kali seperti demam berdarah. Gejala tifoid antara lain:
  1. Demam suhu di atas 38 derajat Celsius
    Demam pada tifoid cukup khas. Pada minggu pertama setelah seseorang terinfeksi bakteri penyebab tifoid, orang tersebut akan mengalami demam ringan. Demam semakin hari semakin meningkat. Demam tinggi akhirnya terjadi pada minggu ke dua. Demam biasanya muncul pada waktu sore hari dimana pasien merasa menggigil. Kaki dan tangan teraba dingin sedangkan badan teraba panas.
  2. Bradikardia relatif yaitu jumlah nadi per menit yang tidak sesuai dengan kondisi penderita. Normalnya, bila suhu badan meningkat maka kecepatan nadi akan meningkat. Namun pada tifoid, kecepatan nadi tidak meningkat.
  3. Lidah tifoid: lidah pada penderita tifoid cukup khas, yakni keputihan pada bagian tengah lidah dan merah di bagian pinggir.
  4. Keluhan pencernaan, seperti mual, sukar buang air besar, atau sebaliknya, buang air besar encer.
  5. Keluhan saluran pernapasan, seperti batuk, pilek.
  6. Gejala lainnya, seperti mata merah, sakit kepala, sesak napas, pegal-pegal, nyeri sendi, dan sebagainya.

D. Pengobatan

Karena penyebab demam tifoid adalah bakteri, obat demam tifoid ialah antibiotik. Antibiotik yang digunakan antara lain ampicilin, kloramfenikol, ciprofloksasin, kotrimoksasol, ceftriakson, dan sebagainya. Selain itu, penderita juga diberikan obat untuk mengurangi gejala seperti obat penurun panas, obat mual, obat batuk. Penderita juga dianjurkan untuk konsumsi makanan lembut.

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN LUKA DIABETES MELITUS (DM)

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR (SOP) PERAWATAN LUKA DIABETES MELITUS (DM)

A. Pengertian
Melakukan tindakan keperawatan mengganti balutan, membersihkan luka pada luka kotoran.
B. Tujuan
1. Mencegah infeksi
2. Membantu penyembuhan luka
C. Peralatan
Bak instrumen yang berisi :
- pinset anatomi
- pinset chirugis
- gunting debridemand
- kasa steril
- kom 3 buah
Peralatan lain terdiri dari :
- sarung tangan (handscun)
- gunting plaster
- plaster atau perekat
- alkohol 70% atau wash bensin
- desinfektan
- NaCl 0,9%
- bengkok 2 buah, 1 berisi desinfektan
- verban
- obat luka sesuai kebutuhan
D. Prosedur Pelaksanaan
1. Tahap Pra Interaksi
- melakukan verifikasi program terapi
- mencuci tangan
- menempatkan alat didekat pasien dengan benar
2. Tahap Orientasi
- memberikan salam dan menyapa nama pasien
- menjelaskan tujuan dan prosedur tindakan pada keluarga dan klien
- menanyakan kesiapan klien sebelum di lakukan tindakan
3. Tahap Kerja
a. Menjaga privasi
b. Mengatur posisi pasien sehingga luka dapat terlihat jelas
c. Membuka peralatan
d. Memakai handscun
e. Membasahi plaster dengan alkohol dan buka menggunakan dengan pinset
f. Membuka balutan lapis terluar
g. Membersihkan sekitar luka dan bekas plaster
h. Membuka balutan lapis terdalam
i. Menekan tepi luka (sepanjang luka) untuk mengeluarkan pus
j. Melakukan debridement
k. Membersihkan luka dengan cairan NaCl
l. Melakukan kompres desinfektant dan tutuo dengan kassa
m. Memasang plaster dan verban
n. Merapikan pasien
4. Tahap Terminasi
- melakukan evaluasi tindakan yang dilakukan
- berpamitan dengan klien
- membereskan alat-alat
- mencuci tangan
- mencatat kegiatan dalam lembar/ catatan keperawatan.